Minggu, 19 Juli 2020
Bukutronik Kumpulan Opini Terpilih
Sebagian tulisan - tulisan yang terbit di berbagai media saya kumpulkan dalam sebuah bukutronik. Bagi yang beminat silakan mengunduh di sini. Terima Kasih.
Selasa, 14 Juli 2020
Mengejar Beasiswa di Usia yang Tak Lagi Muda
![]() |
| sumber foto: ayokuliah.id |
Kamis, 11 Juni 2020
#107 Tapera dan Krisis Rumah
(Dimuat di Koran Republika, 11 Juni 2020)
Dalam rangka menyediakan perumahan bagi masyarakat pemerintah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2020 tentang Penyelenggarakan Tabungan Perumahan Rakyat
(Tapera). Tapera ini diwajibkan untuk PNS/TNI/Polri, karyawan BUMN/BUMD/BUMDes
dan pekerja swasta dengan penghasilan di atas UMR.
Kebijakan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat
karena kepesertaannya bersifat wajib. Bagi pekerja akan dipotong upahnya 2,5
persen dan bagi pemberi kerja berkewajiban menanggung 0,5 persen upah pekerja
dalam pembayaran Tapera. Potongan wajib inilah yang memberatkan pekerja dan
pemberi kerja. Bagi pekerja yang telah memiliki rumah atau pekerja dengan
penghasilan di atas 8 juta rupiah dan bagi bagi pemberi kerja, Tapera ini
sifatnya paksaan. Hal ini karena Tapera sifatnya gotong royong dengan
pembiayaan rumah hanya diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah
(MBR).
Sabtu, 09 Mei 2020
#106 Mengawal Daya Beli
(Dimuat di Koran Republika, 9 Mei 2020)
Pandemi covid-19 telah mengguncang perekonomian Indonesia. Upaya
untuk mengendalikan penyebaran virus melalui pembatasan sosial berskala besar
(PSBB) menyebabkan banyak kegiatan ekonomi terhenti. Akibatnya 2,9 juta orang
karyawan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan sebagaimana
yang dilaporkan ke Kementerian Tenaga Kerja (1/5). Belum lagi dengan pelaku
usaha informal yang mengandalkan penghasilan harian juga juga mengalami
penurunan permintaan barang/jasa. Hal tersebut mengakibatkan penurunan
pendapatan dan daya beli penduduk.
Daya beli menjadi hal penting karena menyangkut kesejahteraan
penduduk sekaligus keberlangsungan ekonomi. Ketiadaan pendapatan mengakibatkan
kemampuan untuk membeli barang dan jasa menjadi berkurang sehingga kebutuhan
hidup tidak akan tercukupi. Kenyataan ini berpotensi untuk menambah jumlah
penduduk yang jatuh di bawah garis kemiskinan yang saat ini mencapai 24,70 juta
orang.
Selasa, 07 April 2020
#105 Siagakan Desa
(Dimuat di Koran Republika, 7 April 2020)
Penyebaran covid-19 masih terus mengalami peningkatan dari jumlah
maupun sebaran wilayahnya. Hingga Sabtu (4/4) telah ada 2.092 orang yang
positif terjangkit covid-19 yang tersebar di 32 provinsi di Indonesia. Untuk
mencegah penyebaran covid-19 lebih luas, pemerintah mengeluarkan himbauan untuk
tidak melakukan mudik ke kampung halaman/desa.
Namun faktanya, sebelum himbauan itu dikeluarkan pun belasan ribu
perantau di Jabodetabek sudah melakukan mudik ke kampung halaman di Jawa
Tengah, Jawa Barat, maupun daerah lainnya. Oleh karena itu diperlukan kesiapan daerah
terutama perdesaan untuk mengantisipasi penyebaran virus yang berasal dari
perantau yang pulang kampung.
Jumat, 06 Maret 2020
#104 Korona dan Panic Buying
(Dimuat di Republika, 6 Maret 2020)
Pasca diumumkannya 2 kasus positif Corona di Indonesia sontak
membuat penduduk Indonesia panik. Temuan kasus ini menambah jumlah orang yang
terinfeksi corona yang saat ini (4/3) mencapai lebih dari 93.570 orang di dunia
dengan korban meninggal sebanyak 3.204 orang. Kepanikan ini mengakibatkan
banyak orang berbondong-bondong membeli masker, hand sanitizer hingga
bahan makanan. Gelombang kepanikan tersebut mengakibatkan lonjakan harga dan
kelangkaan masker di sejumlah kota di Indonesia.
Panic buying terhadap bahan
makanan ini terjadi di beberapa swalayan di ibukota. Tindakan ini berpotensi
menyebabkan kelangkaan bahan makanan karena penduduk melakukan belanja dalam
jumlah besar untuk persiapan beberapa waktu ke depan. Yang dikhawatirkan aksi
memborong bahan makanan ini akan meningkatkan harga jual/inflasi, padahal
pemerintah sudah menjamin bahwa stok bahan makanan aman.
Jumat, 14 Februari 2020
#103 Korona dan Tantangan Pariwisata
(Dimuat di Koran Republika, 14 Februari 2020)
Virus
korona yang saat ini mewabah di negara China selain memakan korban hingga
ribuan jiwa, juga berdampak pada industry
pariwisata Indonesia. Imbas dari virus korona tersebut, banyak perjalanan
wisata dari China yang dibatalkan hingga
waktu yang tidak bisa ditentukan. Pembatalan ini mengakibatkan penurunan jumlah
kunjungan wisatawan China, yang selama ini menyumbang 13 persen dari seluruh
wisatawan asing yang berkunjung di Indonesia. Rata-rata kunjungan wisatawan
China ke Indonesia mencapai 172,67 ribu orang per bulan.
Populasi
penduduk China yang besar memiliki potensi untuk menjadi target pemasaran
pariwisata RI. Dengan penundaan dan pembatalan kunjungan wisman China akan
berdampak pada target pertumbuhan pariwisata Indonesia. Padahal saat ini
pariwisata diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru ditengah
perlambatan industri manufaktur yang selama ini menopang perekonomian
Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir meski kunjungan wisman ke Indonesia selalu
meningkat setiap tahun, namun telah terjadi perlambatan.
Langganan:
Postingan (Atom)
#140 Sarjana Menganggur di Tengah Bonus Demografi
(dimuat di media Republika, 10 Februari 2026) Di tengah kabar menggembirakan turunnya tingkat pengangguran nasional menjadi 4,85 persen pa...
-
(Dimuat di Kolom Opini Republika, 25 November 2022) Perekonomian Indonesia mampu tumbuh mengesankan di tengah ancaman resesi global saat i...
-
Pertama kali dihubungi oleh adinda Nurin untuk mengisi acara seminar di grup perempuan BPS menulis, rasanya saya belum memiliki kapasitas...
-
Tren penurunan jumlah penduduk miskin pasca pandemi sedikit terganggu dengan lonjakan inflasi yang terjadi pada akhir tahun 2022. Hal ini di...





