Kementerian keuangan memproyeksikan
pertumbuhan ekponomi triwulan III 2020 minus 2 persen, dan target pertumbuhan
ekonomi tahun 2020 direvisi antara -1,1 hingga 0,2 persen. Minusnya pertumbuhan
ekonomi pada triwulan III akan mengakibatkan Indonesia secara teknis
mengalami resesi ekonomi. Bukan pesimis, namun realistis, agar pemerintah lebih
siap dalam mengantisipasi terjadinya resesi. Apalagi rilis resmi bahwa
Indonesia mengalami resesi atau tidak masih akan dilakukan oleh BPS pada awal
November nanti. Resesi atau tidak, kesejahteraan penduduk harus menjadi perhatian utama.
Benar, bahwa pertaruhan masih ada 1 bulan lagi di September untuk mendorong perekonomian. Pemerintah juga berharap ekonomi tumbuh dari konsumsi dalam negeri dengan membuka kegiatan ekonomi dengan new normal atau adaptasi baru. Namun kenyataannya, mobilitas penduduk hanya meningkat di awal Juni, selanjtnya memasuki bulan Juli dan Agustus, mobilitas penduduk kembali melambat. Hal ini seiring dengan melonjaknya kasus positif dan kematian pasien covid-19 di Indonesia.





